Perolehan Aset Tetap Dibeli Dengan Saham (Surat Berharga)

Perolehan Aktiva Tetap sudah dijelaskan di postingan postingan sebelumnya, silahkan jika mau anda baca lagi disini:
Perolehan Aktiva Tetap dibeli Saham
Perolehan Aktiva Tetap Dibeli Saham

Aset Dibeli Dengan Saham/Obligasi atau Menerbitkan Surat Berharga (Insuence of Securities)


perolehan aset tetap dibeli dengan saham
aset tetap dibeli dengan saham
Aset yang diperoleh dengan  surat berharga (saham atau obligasi) diakui senilai harga pasar saham/obligasi. Apabila harga pasar sahamnya tak diketahui maka harga perolehan aset diakui sebesar harga pasar dari aset yang diperoleh. Pertukaran aset dengan surat berharga dicatat dalam akun rekening hutang obligasi atau modal saham sebesar nilai nominal. Selisih nilai tukar dengan nilai nominal diakui dan dicatat dalam rekening Premium (Agio Saham) atau Discount (Disagio Saham)

Poin poinnya:
  • Perolehan aest tetap diakui sebesar Harga Pasar saham yang dikeluarkan pada saat pembelian aset terjadi.
  • Apabila harga pasar lebih besar/tinggi dari harga nominalnya maka diakui adanya premiun (Agio Saham)
  • Apabila harga pasar lebih kecil dari harga nominalnya, maka diakui adanya Discount (Disagio Saham)

Contoh Kasus :

            PT. Foraz menukar 2.000 lembar saham biasa dengan nominal Rp 10.000/lembar, diketahui pada saat pertukaran harga pasar saham Rp. 11.000 /lembar, maka

Nilai Kurs : 2.000 x Rp 11.000 = Rp22.000.000
Nilai Nominal : 2.000 x Rp 10.000 = (Rp20.000.000)
Premium on Common Stock = Rp2.000.000

Jurnal :

Debit | Machine Rp22.000.000
Kredit | Common Stock Rp20.000.000
Kredit | Premium on Common Stock Rp2.000.000


#Pertanyaan nyeleneh
Saya lagi lagi bingung, tentang konsep dasar pengakuan perolehan aset tetap, disepakati bahwa aset tetap diakui sebesar harga perolehan, dimana harga perolehan itu menurut definisi dan kesepakatan bersama merupakan semua biaya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap. nah jika kita mendapatkan dengan menggunakan surat berharga, kenapa tidak berlaku harga perolehan?

Mengapa menggunakan harga pasar?
Mengapa tidak konsisten diterapkan konsep perolehan ini?

Saya tak bisa menjawabnya walaupun saya punya pandangan sendiri

Perolehan Aset Tetap dari Sumbangan atau Hadiah ( Donation of Discovery )


Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah harus diakui sebesar nilai pasar wajarnya dan apabila dalam menerima hadiah atau sumbangan tersebut dikeluarkan biaya, maka modal hadiah akan berkurang sebesar biaya tersebut.

Contoh :

PT. Foraz memperoleh sumbangan atau hadiah dari pemerintah berupa tanah dan bangunan dengan nilai masing-masing Rp. 40.000.000,00 dan Rp. 60.000.000,00

Jurnal :

Debit | Land Rp40.000.000
Debit | Building Rp60.000.000
Kredit | Donated Capital Rp100.000.000


Apabila dalam menerima hadiah tersebut dikeluarkan biaya Rp. 2.000.000,00 maka jurnalnya :

Debit | Land Rp40.000.000
Debit | Building Rp60.000.000
Kredit | Donated Capital Rp98.000.000
Kredit | Cash Rp2.000.000


Selesai sudah pembahasan mengenai Perlakuan Akuntansi Perolehan Aset Tetap, semoga tulisan ini bisa bermanfaat, jika ada yang belum dimengerti, silahkan ditanyakan, pasti saya akan kabur..


    Perolehan Aset Tetap Berwujud Dibangun Sendiri

    Perolehan Aktiva Tetap - Aset Tetap bisa diperoleh dengan bermacam cara, beberapa diantaranya ialah: dibeli secara Tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham. Untuk penjelasan mengenai perolehan aset tetap, silahkan baca positingan saya sebelumnya tentang Perolehan Aset Tetap

    Pada postingan sebelumnya juga, sudah saya bahas mengenai Perolehan Aset Tetap yang di peroleh dibeli secara Tunai, silahkan bisa di baca di perolehan aset tetap secara pembelian tunai. Perolehan aset tetap yang diperoleh dengan kontrak jangka panjang (dicicil) dan pertukaran, silahkan baca di perolehan aset tetap pertukaran

    Perolehan Aset Tetap Di Bangun Sendiri


    aktiva dibangun sendiri
    Perolehan Aset Tetap Dibangun Sendiri

    Untuk aset bangunan sering juga diperoleh dengan dibangun terlebih dahulu, tidak membeli bangunan siap pakai. Pada dasarnya, perolehan aset tetap yang dibangun sendiri seperti bangunan sering kali terbagi menjadi dua proses, pertama dibangun menggunakan jasa kontraktor (istilahnya diborongkan) proyeknya, yang kedua dibangun sendiri, tidak diborongkan kepada pihak lain.

    Jika perolehan aset tetap diborongkan kepada pihak lain, maka harga perolehan aset tetap tersebut diakui sebesar nilai kontraknya, sesuai kontrak dengan kontraktor yang mengerjakan proyeknya. dan jika dibangun sendiri, maka harga perolehan aset tetap diakui sebesar seluruh pengeluaran atas pembangunan aset tersebut misalkan pembangunan gedung, pabrik tersebut. Dalam pembuatan aset tetap yang tidak diborongkan, biaya biaya seperti upah langsung, bahan material dan biaya produksi langsung dibebankan kedalam harga perolehan.

    Jika perolehan aset dengan cara diborongkan, maka akan mudah untuk menentukan harga perolehannya, begitu juga dengan yang dibangun sendiri, tinggal menambahkan semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, tapi,......
    Kasus yang lumayan pelik dalam penentuan perolehan aset tetap yang dibangun sendiri adalah, Seandainya pembangunan aset tetap terjadi saat perusahaan sedang beroperasi?

    Apanya yang menjadi masalah pelik?

    Dalam pembangunan tentu ada banyak pengeluaran, dan pada waktu yang sama pula perusahaan juga sedang beroperasi, sedang melakukan aktivitas produksi, yang juga banyak terjadi pengeluaran biaya di site pembangunan yang searea, pengeluaran bisa campur aduk antara biaya operasional produksi vs biaya pembangunan gedung.

    Ok, pengeluaran yang terjadi selama masa pembangunan sama saja dengan pengeluaran-pengeluaran proses produksi di perusahaan, yang terdiri dari 4 kelompok pengeluaran besar :
    • Bahan langsung (material)
    • Upah langsung (direct labour)
    • Biaya Tak langsung (overhead)
    • Biaya operasional (expenses)

    Pengeluaran bahan langsung: OK,  ini mudah untuk dipisahkan, tak ada masalah serius.

    Pengeluaran Upah langsung: Ok, inipun mudah untuk dipisahkan, 

    Pengeluaran Biaya tak Langsung dan Biaya Operasional, Nah ini mungkin agak sulit untuk dipisahkan. hampir pasti perusahaan akan memakai sumber daya yang sama untuk post pengeluaran ini.

    Contohnya: penggunaan air, pemakaian telepon, pemakaian listrik, transportasi, biaya satpam, peralatan tertentu, atau bahkan menugaskan karyawan/staf khusus yang bekerja dioperasional perusahaan juga bertugas mengawasi proyek pembangunan aset tetap.

    Termasuk akuntan (staff accounting), selain menghandle keuangan dan pembukuan perusahaan yang sedang beroperasi juga harus membukukan semua transaksi yang muncul akibat proses pembangunan aset juga.

    Lalu Bagaimana memisahkannya?

    Kita menggunakan INCREMENTAL METHOD untuk menjawab masalah ini yaitu dengan cara membandingkan selisih overhead cost antara overhead/expenses sebelum dan sesudah adanya kontruksi pembangunan aset.

    Contoh Kasus :

    PT Foraz sejak 6 Juni 2014 melakukan perluasan pabrik dengan membangun gedung baru. PT Foraz sudah sejak 10 tahun yang lalu produksinya. Dari Laporan Rugi laba PT. Foraz, didapat data sebagai berikut :

    perolehan aktiva tetap dibangun sendiri
    Perolehan aset tetap dibangun sendiri
    Dengan meliihat perbandingan data tersebut, maka porsi alokasi yang perlu dikapitalisasi bisa ditentukan seperti terlihat dikolom terakhir pada table dibawah ini :

    perolehan aset tetap dibangun sendiri
    perolehan aset tetap dibangun sendiri

    Jurnalnya sudah bisa kita buat

    Debit | Electricity 450
    Debit | Building 50
    Credit | Cash 500

    Debit | Water Supplies 250
    Debit | Building 50
    Credit | Cash 300

    Debit | Thelephone 200
    Debit | Building 50
    Credit | Cash 250


    Debit | Overtime 13.000
    Debit | Building 2.000
    Credit | Cash 15.000


    Debit | Office Supplies 250
    Debit | Building 150
    Credit | Cash 400


    Debit | Petrol 50
    Debit | Building 50
    Credit | Cash 100

    Apabila ada pertanyaan ataupun kritik serta koreksi, silahkan tinggalkan dikolom komentar, sekian dulu pembahasan mengenai Perolehan Aset Tetap Dibangun Sendiri , jika merasa ada yang kurang paham silahkan ditanyakan di kolom komentar. baca juga : Aktiva diperoleh dari surat berharga (saham/obligasi)


    Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran dan Kredit

    Perolehan Aset Tetap


    Perolehan Aktiva Tetap - Setelah sebelumnya saya memposting tentang Perolehan Aset Tetap yang diperoleh dari pembelian secara tunai, kali ini saya akan memposting mengenai perolehan aset tetap yang diperoleh dengan cara lain. kita tahu, dalam memperoleh aset tetap, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan, seperti Dibeli secara Tunai, dicicil (kontrak jangka panjang), pertukaran, dibangun sendiri maupun dengan saham. untuk contoh dan penjelasan secara pembelian tunai, silahkan bisa di baca di: Perolehan Aset Tetap Secara Pembelian Tunai

    Aset Tetap Diperoleh dari Pembelian Kredit


    Dalam perolehan aktiva tetap dengan membelinya secara kredit (pembayarannya secara cicilan), maka tidak perlu adanya pengeluaran kas sekaligus, tetapi kas dikeluarkan secara bertahap sesuai deal kesepakatan bersama kredito. selain itu dengan transaksi pembelian aset secara kredit ini akan menimbulkan bunga yang harus dibayar.

    Aktiva tetap yang diperoleh dengan pembelian angsuran, dalam menentukan harga perolehannya tidak termasuk bunga didalamnya. Bunga yang timbul dibebankan pada saldo yang belum dibayar atas kontrak dicatat sebagai biaya.

    Contoh :
    Pada tanggal 2 januari 2014 PT. Foraz membeli sebuah gedung dengan cara mencicil seharga Rp. 100.000.000 dengan uang muka Rp. 25.000.000 sisanya diangsur setiap akhir tahun selama tiga tahun dengan bunga 5% per tahun.

    Jurnal 2 Januari 2014

    Debit | Building Rp100.000.000
    Kredit | Cash Rp25.000.000
    Kredit | Contract Payable Rp75.000.000


    Jurnal 31 Desember 2014

    Debit | Contract Payable * Rp25.000.000
    Debit | Interest Expense ** Rp3.750.000
    Kredit | Cash Rp28.750.000

    Notes :
    *     Contract Payable (utang) Rp 75.000.000 dibagi 3 tahun = Rp 25.000.000
     **  Bunga 5% dari Saldo utang kontrak: 5% x Rp 75.000.000 = Rp 3.750.000


    Jurnal 31 Desember 2015

    Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
    Debit | Interest Expense  Rp2.500.000
    Kredit | Cash Rp27.500.000


    Jurnal 31 Desember 2016

    Debit | Contract Payable  Rp25.000.000
    Debit | Interest Expense  Rp1.250.000
    Kredit | Cash Rp26.250.000


    #Pertanyaan

    Mengapa bunga tidak dimasukkan harga perolehan aset tetap berwujud?
    Bukankah Aset tetap di akui sebesar harga perolehan yang merupakan harga dari barang ditambah semua biaya biaya yang diakibatkan dari transaksi aset tetap hingga aset tersebut siap digunakan/beroperasi? hal ini lebih baik dibahas pada lain kesempatan saja. :)

    Aset Tetap Diperoleh dengan Pertukaran


    Pertukaran aset tetap dengan pertukaran maksudnya ialah aset tetap yang telah dimiliki ditukar dengan aset yang dimiliki oleh entitas/orang lain. ada beberapa masalah yang bisa  muncul dalam penentuan nilai-nya. ini disebabkan berbagai kondisi atas pertukaran aset yang terjadi, dan ini dia beberapa hal/kondisi yang patut diperhatikan:
    1. Apakah pertukaran aset sejenis atau tidak sejenis
    2. Apakah diketahui harga pasar asetnya atau tidak diketahui
    3. Apakah disertai dengan arus kas atau tidak disertai arus kas
    Ada beberapa kemungkinan kombinasi yang terjadi atas pertukaran aset tetap diatas, juga bagaimana perlakuan dalam akuntansinya:
    • Harga pasar aktiva tetap diketahui dan tidak disertai dengan arus kas
    Aset tetap yang diperoleh dicatat sebesar harga pasar aset tetap dan mempunyai bukti transaksi yang memadai. Apabila kedua aset keabsahan buktinya sama sama kuat, maka yang dicatat dan diakui adalah harga pasar aset yang diserahkan, akan tetapi apabila aset yang diterima mempunyai bukti transaksi yang lebih lengkap dan lebih handal keabsahannya maka aset tetap perolehannya diakui sebesar aset yang diterima.
    • Harga pasar aset tidak diketahui baik sejenis ataupun beda jenis
    Perolehan aset diakui sebesar nilai buku aset tetap yang dikeluarkan. akumulasi penyusutan aset tetap yang dikeluarkan/diserahkan perlu dihapus dalam kasus ini.
    • Aset Tetap tidak sejenis, harga pasarn aset diketahui, ada/disertai arus kas
    Apabila disertai arus kas, ada dua kemungkinan:
    • Arus kas masuk, artinya ada laba dari pertukaran aset tetap, diakui laba pertukaran
    • Arus kas keluar, artinya ada rugi dari pertukaran aset, diakui rugi pertukaran 
    • Aset yang ditukar sejenis, Harga pasar aset diketahui,disertai arus kas
    - Inddikasi rugi, maka rugi pertukaran diakui
    - indikasi laba, maka jangan diakui sebagai laba

    Contoh Pertukaran Aset Tetap :

                PT. Foraz menukarkan kendaraannya dengan sebuah mesin. Harga Perolehan Kendaraan Rp. 100.000.000, Akumulasi penyusutan pada saat penukaran adalah Rp. 20.000.000, Harga Mesin Rp. 45.000.000, dalam pertukaran tersebut perusahaan menambah uang sebesar Rp. 5.000.000


    Perhitungan :

    - Harga Perolehan Mobil Rp100.000.000
    - Akumulasi Penyusutan (Rp20.000.000)
    - Nilai Buku Rp80.000.000
    - Harga Perolehan Mesin Rp90.000.000
    - Pembayaran (Rp5.000.000)
    - Harga Pasar Mobil Rp85.000.000
    - Laba Pertukaran Rp5.000.000


    Jurnal :

    Debit | Machine Rp90.000.000
    Debit | Accumulation Depreciation Rp20.000.000
    Kredit | Automobile Rp100.000.000
    Kredit | Cash Rp5.000.000
    Kredit | Gain on Exchange of Plants Assets Rp5.000.000


    #Pertanyaan

    Ada laba dan rugi dalam pertukaran, dan langsung di akui dalam laporan keuangan. Masih ingat tentang perolehan aset tetap secara gabungan/lumpsum? silahkan baca [disini] lebih jelasnya. disana jika ada selisih, maka selisih itu di distribusikan kepada aset tetap yang diperoleh, tidak dimasukkan atau dikapitalisasi ke dalam aset tetap. sedangkan di sini, kita lihat langsung di akui laba atau rugi jika ada selisih, padahal judulnya sama, "Perolehan Aset Tetap"! perkara itu karena caranya yang berbeda, katakanlah, yang satu dibeli secara tunai, yang satu dengan ditukar, tapi benang merahnya sama, ada aset yang dikeluarkan untuk memperoleh aset yang baru. dan kenapa jika ada selisih, perlakuannya berbeda?

    Nah ini juga keanehan dalam metode ini, saya juga bertanya logikanya darimana. next posting jika ada waktu ingin sekali saya bahas. mungkin ada yang bisa bantu menjelaskan?

    Baiklah, untuk saat ini sekian dulu mengenai perolehan aset tetap masih ada lagi cara perolehan dengan metode lain, Silahkan anda baca Perolehan Aktiva Dibangun Sendiri dan Perolehan Aktiva melalui Surat Berharga (saham atau obligasi)


    Perolehan Aset Tetap

    Perolehan Aktiva Tetap


    Banyak macam cara dalam proses perolehan aset tetap, nanti saya akan posting satu satu contoh kasusnya, diantaranya
    • Dibeli secara tunai 
    • Dibeli dengan cara mencicil
    • Pertukaran
    • Dibangun sendiri
    • Dibeli dengan saham
    Pada konsep dasarnya, perolehan aset tetap diakui sebesar HARGA PEROLEHAN, apa itu harga perolehan? harga perolehan adalah semua biaya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap tersebut mulai dari biaya pembelian hingga semua biaya biaya yang timbul hingga aset tetap tersebut siap beroperasi.
    jadi rumusnya:

    harga beli + semua biaya yang timbul dari proses pembelian hingga siap operasi


    perolehan aset tetap
    Perolehan Aktiva Tetap

    Aset Tetap Dibeli Tunai



    Aset tetap yang diperoleh dengan dibeli secara tunai dicatat sebesar nominal yang dibayarkan, yang terdiri atas harga beli aset tetap termasuk juga didalamnya bea impor dan PPN  masukan ditambah semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap tersebut seperti beban angkut, biaya pasang, ongkos balik nama, beban bongkar muat, juga biaya seperti membayar profesional yang dibutuhkan. Dan jika dalam pembelian tunai aset tetap terdiri dari berbagai macam aset tetap, maka harga pokok masing masing aset tersebut ditetapkan berdasar harga pasar relatif, jika harga pasar relatif tidak diketahui, alokasi harga perolehan aset bisa dilakukan berdasar surat bukti dari suatu entitas/lembaga independen misalnya pajak.

    Contoh Soal

    PT Blimbing yang beroperasi di  Kota Malang membeli sebuah mesin dari perusahaan supplier di Surabaya seharga Rp 1000, Pph 22 sebesar 7.5% PT Blimbing, mesin dikirim via kurir yang ditunjuk, ongkos kirim dari Surabaya ke Malang sebesar Rp 100, dan instalasi pemasangan mesin memakan biaya Rp 50, dan asuransi pengiriman sebesar Rp 15

    Bagaimanakan perlakuan akuntansi atas pembelian mesin tersebut?

    * Penilaian Aset:

    Jika di uraikan, semua pengeluaran untuk memperoleh mesin tersebut adalah sebagai berikut :

    Pembelian 1000
    Pph 22 75
    Ongkos Kirim 100
    Asuransi 15
    Biaya Instalasi    50
    1240

    Total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.240 merupakan harga perolehan atas mesin tersebut

    * Pengakuan Aset (pencatatan)

    Pencatatan wajar:

    Debit | Aktiva Tetap Mesin Rp1.240
    Kredit | Kas Rp1.240

    Pencatatan tidak wajar:

    Debit | Aktiva Tetap Mesin 1000
    Debit | Pph 22 75
    Debit | Ongkos Kirim 100
    Debit | Asuransi 15
    Debit | Biaya Instalasi 50
    Kredit | Kas 1240


    Pertanyaannya: Apa alasan mengapa pada penjurnalan yang pertama dikatakan wajar sedangkan penjurnalan kedua  tidak wajar ? Ini dikarenakan, hendaknya pengeluaran/biaya yang dikeluarkan diakui saat periode dimana manfaat atas pengeluaran tersebut akan didapat/diperoleh.

    Dalam contoh tadi, apabila dilakukan penjurnalan seperti yang kedua, maka ketika penutupan buku akan terlihat beban yang sangat tinggi, ataupun bahkan mungkin PT. Blimbing terlihat seperti mengalami Rugi yang sangat besar karena pembebanan biaya kirim dan biaya instalasi secara bersamaan. Sementara itu aset tetap mesin yang diperoleh masih belum menghasilkan produk (output), atau masih tidak memberikan manfaat dan pada periode berikutnya laba akan nampak tinggi karena biaya yang diakui saat pembelian mesin yang sudah dimanfaatkan tidak ada karena sudah diakui saat periode pembelian..

    Pencatatan menjadi wajar jika semua biaya biaya yang dikeluarkan tadi dikapitalisi atau diakui sebagai harga perolehan mesin lalu kemudian pembebanannya dialokasikan secara bertahap pada periode berikutnya, periode dimana manfaat aset tetap mesin tersebut dirasakan.

    Pembelian Aset Tetap secara Gabungan (Lumpsum)


    Apabila aset tetap yang dibeli secara gabungan, atau lebih dari satu jenis aset tetap, harga perolehannya dialokasikan atau dibagi kepada masing masing aset tersebut. pengalokasian harga perolehan gabungan berdasar pada perbandingan nilai wajar pada tiap aset yang bersangkutan.

    Contoh :
    Suatu tanah, bangunan dan peralatan diperoleh dengan harga Rp.8000, menurut taksiran fiskus, harga masing-masing aktiva tersebut adalah : Tanah Rp. 3.100, bangunan Rp. 2.500 dan peralatan Rp. 1.500 maka untuk menentukan harga perolehan masing-masing aktiva tersebut adalah :

    perolehan aset tetap
    Perolehan Aset Tetap

    Dan jurnalnya sebagai berikut:

    Debit | Land 3.500
    Debit | Building 2.800
    Debit | Equipment 1.700
    Credit | Cash 8.000

    Aset yang di catat adalah harga perolehan bukan taksiran dari fiskus, tapi setelah ditambahi pembagian selisih harga beli secara keseluruhan yang sudah didistribusikan.

    Sementara begini dulu posting tentang Perolehan Aset Tetap, untuk perolehan aset tetap 

    Baca juga perolehan aset tetap:


    Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

    Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap (aktiva tetap)


    Penjelasan umum mengenai aktiva tetap atau yang juga dikenal dengan sebutan Aset Tetap berwujud silahkan baca di postingan pengertian Aset Tetap

    Secara umum, Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap dibagi kedalam beberapa fase
    1. Fase Perolehan Aset Tetap
    2. Fase Penggunaan Aset Tetap
    3. Fase Penarikan Aset Tetap
    akuntansi aset tetap
    Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

    Perolehan Aktiva Tetap 


    Fase perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada fase ini meliputi:
    Perolehan Aktiva Tetap (Acquisition)
    Pemasangan Aktiva Tetap (Installation)
    Juga meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas perolehan aset tetap.

    Penggunaan Aset Tetap 


    Fase dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan yang timbul pada fase ini antara lain :

    Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets


    Pada penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
    Beserta : Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.

    Perlakuan Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga diposting
    • Audit dan Rasio Aktiva Tetap
    • Penilaian Investasi atas Aktiva Tetap
    • Sekilas mengenai Aktiva Tetap Sumber Daya Alam
    Kejadian kejadian khusus juga menarik untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuri atau aset terbakar, perlakuannya bagaimana?

    Sejauh ini, saya rasa cukup begini dulu gambaran perlakuan akuntansi aset tetap masing masing pos nanti akan diposting pelan pelan ya.. semoga bermanfaat


    Amortisasi Goodwill, Perlukah?

    Perlukah Amortisasi Goodwill?


    Sebenarnya postingan kali ini adalah saya ingin bertanya saja, mencoba mengeluarkan unek - unek tentang Amortisasi Goodwill, atau penyusutan aset tak berwujud.

    Dulu, (tidak tau sekarang aturannya seperti apa) amortisasi goodwill ini ramai diperdebatkan, apakah perlu diterapkan atau tidak, di luar, IFRS maupun IAS memutuskan untuk tidak membolehkan penerapan amortisasi goodwill dan menggantinya dengan  impairment (revaluasi goodwill) dan indonesia masih memakai perlakuan AMORTISASI untuk goodwill dengan menggunakan metode garis lurus.
    amortisasi goodwill
    Amortisasi Goodwill
    Goodwill merupakan aset tak berwujud yang paling lain, paling tidak memiliki wujud, goodwill hanya akan terjadi apabila ada transaksi strategis semisal akuisisi atau merger dengan perusahaan lain. goodwill merupkan aset tak berwujud yang sulit untuk diukur secara handal. manfaatnya ada di masa mendatang, seperti "nama besar", tingkat ke-strategis-an produk atau perusahaan, kedekatan dengan konsumen, dan yang lainnya. kita tak bisa membandingkan sepatu hasil produksi pengrajin di Tanggulangin - Sidoarjo dengan sepatu merk nike maupun adidas, mereka sudah punya nama, mereka dengan bahan, kualitas dan tipe yang sama bisa jauh lebih mahal, dan lebih mendatangkan keuntungan dikarenakan "brand" atau nama besar mereka. brand atau  nama besar tersebut sudah barang tentu menjadi aset yang bernilai bagi nike ataupun adidas, yang sulit untuk di ukur, ataupun dinilai dalam akuntansi. karena tak berwujud dan tak ada patokan harga "brand" hari ini, karena manfaatnya di masa mendatang.

    Amortisasi goodwill, perlukah?

    Perlakuan goodwill yang di amortisasi sekian tahun, katakanlah 10 tahun. menunjukkan bahwa goodwill merupakan beban suatu perusahaan yang disusutkan atau diakui tiap tahun hingga 10 tahun. artinya, goodwill = beban. lebih tepatnya beban yang di kapitalisasi dan beban tersebut dialokasikan setiap periode selama "prediksi" manajemen sampaikapan manfaatnya berakhir

    Benarkah goodwill adalah beban?

    Ditentukan dengan apa sehingga di dapat jangka waktu 10 tahun?
    Dan mengapa harus disusutkan? kenapa tidak diakui sebagai beban sekaligus saat tahun diperolehnya goodwill? mengapa harus diamortisasi secara "cicilan" sekian tahun?

    Itu menjadi pertanyaan saya, saya cari jawabannya ternyata bikin pusing dan masih belum "ngeh" juga.

    Selama ini,goodwill diperlakukan sebagai beban perusahaan. beban yang dikapitalisasi dan disusutkan sekian tahun, dialokasikan diperiode periode mendatang agar "tak mengganggu" laporan laba rugi saat goodwill diperoleh, karena nilainya yang cukup material dan diprediksi memiliki manfaat di masa datang, namun sayangnya dalam goodwill tak ada satupun yang tahu sampai kapan manfaat itu akan terus diterima oleh perusahaan. ini berbeda dengan perusahaan membeli gedung, secara teknis dan handal bisa diperkirakan (prediksi) umur ekonomisnya oleh beberapa ahli.

    Konsep goodwill yang di amortisasi sekian tahun, estimasi manfaat goodwill yang habis sekian tahun menjadi tidak relevan. goodwill tidak bisa ditentukan berdasarkan "feeling" seorang manajemen kapan goodwill akan habis manfaatnya. kita tak bisa pernah tahu kapan brand nike ataupun adidas akan hancur. kapan kedua merek tersebut akan menjadi bukan merek apa-apa layaknya produk sepatu tanggulangin.

    Apabila mengacu amortisasi goodwill selama 10 tahun, maka seolah olah setelah 10 tahun, goodwill sudah tak ada manfaatnya lagi, brand sepatu nike dan adidas sudah tak berarti lagi, sama seperti sepatu produk tanggulangin sidoarjo. tentu ini sulit untuk diterima dan tak bisa diandalkan sebagai informasi.

    Goodwill sangat susah diukur nilainya, sampai kapan berakhir manfaatnya, seperti apa bentuknya.

    Semisal saya jika ingin membuka usaha, dan saya membeli perusahaan teman saya yang asetnya berupa ruko seharga Rp 50 dan mobil seharga Rp 20, dan saya deal dan membeli perusahaannya perusahaannya dengan harga Rp 100, maka ada selisih 30, apakah saya cukup bodoh karena membeli lebih mahal Rp 30?

    Apakah saya rugi? mungkin saya rugi secara angka angka, karena saya keluar duit Rp 100 tapi dapat aset cuma Rp 80. Namun saya punya alasan tersendiri, saya yakin, untuk kedepannya, melihat strategisnya ruko, dan brand usaha temen saya sebelumnya itu mapan dan sudah dikenal khalayak serta memiliki base konsumen yang sudah setia, akan menguntukan bagi saya, banyak manfaat yang akan saya peroleh nantinya yang tidak dapat saya rasakan saat ini.

    Lalu perlakuan akuntansi untuk selisih uang Rp 30 itu bagaimana? 
    saya tidak bisa meng-amortisasi, karena tidak ada batas waktu manfaat atas goodwill tersebut, saya tidak mungkin tahu sampai kapan manfaat goodwill itu akan habis. 

    Saya juga tak bisa membebankan selisih tersebut ke laba rugi operasional karena memang bukan operasional perusahaan.

    Impairment? sepertinya tidak, bagaimana revaluasinya dan apakah hasilnya akan sesuai kondisi riil lapangan? pembahasan ini akan panjang. lalu bagaimana? saya pribadi lebih prefer memasukkannya ke dalam neraca, dalam akun tersendiri misal katakanlah selisih pembelian PT. A atau Selisih Akuisisi dengan catatan khusus.

    Jurnalnya kira kira begini :

    Debit | Ruko 50
    Debit | Mobil 20
    Debit | Goodwill 30
    Kredit | Kas 100


    Lalu pada akhir tahun :

    Debit | Selisih Akuisisi 30
    Kredit | Goodwill 30


    Atau mungkin bahkan Akun Goodwill ditiadakan :

    Debit | Ruko 50
    Debit | Mobil 20
    Debit | Selisih Akuisis 30
    Kredit | Kas 100


    Amortisasi Goodwill, perlukah? saya pribadi berpendapat tidak perlu, atau bahkan keberadaan goodwill pun kalau bisa tidak perlu dicatat, mungkin banyak yang tidak setuju, itu sudah pasti, mungkin uneg uneg ini gila, tapi saya memiliki alasan tersendiri, cukup panjang. masih belum sempat ditulis.

    Sebenarnya masih ingin dijelaskan detailnya, yang berhubungan dengan amortisasi, impairment, goodwill, namun keterbatasan waktu sementara seperti ini dulu. Mungkin ada pandangan lain mengenai Amortisasi Goodwill ? silahkan berkomentar, saya sangat bersenang hati apabila ada uneg - uneg atau pandangan yang berbeda, karena sejujurnya saya juga ingin tahu lebih lanjut.


    Definisi Goodwill Dalam Akuntansi

    Pengertian Goodwill


    Sudah pernah dengar nama goodwill? goodwill berasal dari bahasa batak, good yang berarti baik dan will yang berarti akan, jadi goodwill adalah berarti "akan baik". itu Definisi Goodwill yang paling dapat diterima ngawurnya.

    Goodwill adalah bagian Aset dalam neraca keuangan perusahaan, diklasifikasikan kedalam aset tak berwujud yang muncul pada saat terjadi akuisisi suatu entitas bisnis terhadap entitas bisnis yang lain. timbulnya goodwill ketika pembayaran (pembelian) atas perusahaan lain dengan harga diatas harga pasar aset bersih (nilai buku). selisih yang timbul inilah yang dinamakan Goodwill. dengan kata lain
    Goodwill merupakan representasi angka yang lebih besar dari nilai buku yang dibayarkan suatu entitas untuk bisa mendapatkan entitas lain.
    definisi goodwill
    Pengertian Goodwill
    Misalnya Perusahaan A ingin membeli perusahaan B untuk ekspansi usahanya, perusahaan B memiliki total Aset sebesar Rp 1.000, total Liabilitas: Rp 350 dan total Equity Rp 650. perusahaan B jual mahal terhadap perusahaan A karena tau posisi mereka strategis buat perusahaan A, setelah negosiasi yang cukup melelahkan, akhirnya perusahaan B mau di beli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850, dan deal.

    Lalu bagaimana? mari kita perhatikan

    Harga Beli : 850
    Total Aset : 1000
    Net Aset : 650

    *Net Aset: Total Aset-Total Kewajiban (Hutang)

    Total Aset Bersih Perusahaan B adalah Rp 650 namun dibeli oleh perusahaan A dengan harga Rp 850, ada selisih Rp 200. Nah, selisih inilah yang kita sebut sebagai "Goodwill". Apa ini kerugian? mungkin secara angka angka memang lebih mahal, tapi manfaat pembelian perusahaan B ini diprediksi akan mengalir hingga beberapa tahun kedepan.

    Secara sederhana perusahaan A melakukan penjurnalan seperti ini :

    Debit | Aset Rp1.000
    Debit | Goodwill Rp200
    Kredit | Kas Rp850
    Kredit | Liabilitas Rp350


    Note: itu hanya contoh sederhana saja, biasanya ditulis terdiri dari aset apa aja (current aset, fixed aset dll), libilitas apa saja, dan detail lain nya serta tetunya lebih kompleks.

    Apa sudah ada gambaran apa itu goodwill? Goodwill diklasifikasikan kedalam Aset Tak Berwujud (Intangible Asset), Bisa dikata goodwill adalah aset tak berwujud yang mungkin paling tak berwujud karena goodwill paling susah untuk diukur secara handal. 

    Perolehan Goodwill


    Goodwill akan timbul jika ada aktifitas suatu entitas bisnis membeli entitas lain, dimana harga yang dibayarkan lebih besar dari harga/kekayaan bersih perusahaan yang dibeli. namun, apabila harga belinya dibawah dari kekayaan bersihnya. maka yang muncul adalah goodwill negatif, logikanya sama hanya dibolak balik saja.

    Amortisasi Goodwill


    Amortisasi merupakan istilah lain dari penyusutan, kalau pada aktiva tetap ada istilah penyusutan, dalam Aset Tak Berwujud, penyusutan itu disebut amortisasi. dalam PSAK disebutkan Amortisasi merupakan aalokasi jumlah tersusutkan secara sistematis atas aktiva tak berwujud selama masa manfaat ekonomisnya. Harga perolehan aktiva tak berwujud dibebankan ssecara periodik kedalam rugi laba perusahaan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwill atau aset tak berwujud lainnya

    Metode amortisasi yang sering digunakan adalah Metode Garis Lurus (Straight Line Method).

    Setiap tutup buku, 31 Dec, dilakukan pembebanan amortisasi goodwill kedalam Laporan Laba Rugi dan juga sekaligus nilai buku goodwil pada neraca dikurangi, dengan jurnal 

    Dec 31:

    Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
    Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx


    Rp xxx adalah jumlah goodwill dibagi sebanyak berapa tahun manajemen meng-amortisasi-kan dengan berdasarkan perkiraan terbaik atas masa manfaat goodwillnya dan yang penting wajar. misal seperti contoh di atas, goodwill sebesar Rp 200,di amortisasi selama 5 tahun, jadi tiap tahunnya Rp 200/5 = Rp 40. dalam penentuan berapa banyak tahun yang dibutuhkan dalam mengamortisasi goodwill, hal ini sebenarnya menjadi banyak perdebatan.

    Tambahan: Account akmluasi amortisasi goodwill serta aset tak berwujud yang lain umumnya tidak disajikan dalam neraca tetapi hanya disajikan sebesar nilai buku.

    Penghapusan Goodwill | Writte Off


    Apa tujuan penghapusan Goodwill? kalau semisal goodwill yang didapat atas pembelian perusahaan terdahulu sudah diaku tidak memberikan manfaat lagi bagi perusahaan, lalu untuk apa goodwill dipertahankan? maka dari itu perlu adanya penghapusan goodwill.

    Pencatatan jurnalnya :

    Debit | Amortisasi Goodwill Rp xxx
    Kredit | Akumulasi Amortisasi Goodwill Rp xxx

    * Rp xxx adalah Nilai Buku saat penghapusan

    Penurunan Goodwill | Writte Down


    Writte-down diperlukan dan dilakukan jika manfaat yang diberikan oleh Goodwill diakui telah menurun. Jurnal pencatatan writte-down Goodwill sama dengan jurna pencatatan writte-off, yang berbeda hanya nominalnya, nilai penurunan nilai goodwill hanya sebesar nilai yang turun saja, bukan nilai goodwill seluruhnya.

    Notes:
    Writte-off ataupun writte-down dapat dilakukan setelah adanya revaluasi oleh badan appraisal yang independen. Nanti, besaran nilai writte off maupun writte down dari goodwill didapat dari hasil rekomendasi badan appraisal tersebut.

    Sebenarnya amortisasi goodwill menjadi polemik tersendiri, bahkan menjadi sebuah kontroversi, antara goodwill perlu dihapuskan atau tidak dihapuskan.  bahkan FASB pada tahun 2005 lalu memutuskan amortisasi goodwill tidak diperkenankan untuk dilakukan. Amortisasi Goodwill-pun tidak boleh diterapkan oleh IAS (International Accounting Standard). pendekatan yang boleh diperlakukan atas goodwill hanyalah pendekatan impairment. Apa itu impairment? sepertinya butuh ruang khusus untuk membahas impairment, tidak dipostingan kali ini.


    Apabila ada pertanyaan, ataupun sanggahan koreksi, silahkan untuk tinggalkan pesan dikolom komentar. Untuk sementara cukup sekian bahasan tentang Definisi Goodwill dalam Akuntansi